Desember 24, 2008
Islam Bukan Arab

Gambar masjid di Timbuktu, tanpa kubah model Bizantium
Akhir-akhir ini menjadi tren untuk mengikuti langkah-langkah asumsi bahwa menjalani keseluruhan tindakan Nabi SAW yang Mulia ( Hazrat Nabi Al Mustafa El Karem) sebagai wujud uswa al hasanah.
Nabi SAW adalah jelas adalah teladan bagi kita kaum muslimin, tetapi Ahmed Shahi Kusuma melihat kecenderungan yamg salah kaprah sehingga akhirnya setiap tindakan Nabi SAW sebagai orang Arab per se dianggap sebagai teladan, dan ini yang tidak disetujui Ahmed Shahi Kusuma.
Argumen jika semua tindakan Nabi sunnah adalah contoh memakai jubah pada beberapa gerakan Islam seperti FPI,MMI, dan sejenisnya menurut Ahmed Shahi Kusuma adalah Arabisme, bukan Islamisme persis yang dilakukan gerakan evangelis Kristen yang mengidentikkan Kristen dengan nativisme Yahudi, penggunaan El Shadai, Yahweh,Shalom dan sejenisnya.
1. Logika pertama. Jika memakai jubah adalah sunnah Nabi SAW dan juga makan kurma , maka tidak bisa diingkari kita terjebak pada fasisme kultural. Mengapa ? karena secara tidak langsung kita mengakui bahwa kurma lebih afdhol daripada semangka yang tidak ada di Arab,dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budaya Arab lebih tinggi daripada budaya jawa, Minang,Bengali atau Eskimo !
2. Apabila kita beranggapan bahwa memakai jubah dan makan kurma adalah Sunnah Nabi SAW, maka Abu Jahal cs, kafir Qureish juga Islam dong, karena mereka makan kurma dan berjubah. Sekali lagi ini bukti bahwa Islam bukan Arab.
3. Kita bisa jadi terjebak pada pemahaman arab sentris, tanpa mengapresiasi local genius. Misalnya karena kita menganggap jubah sebagai Islami, bagaimana dengan sarung yang dipakai mayoritas orang Indonesia, ini kan adopsi Bengali, dan baju koko yang diadopsi dari China. Ahmed Shahi Kusuma bayangkan seandainya baju koko di China dipakai ke kuil misalnya, bukankah lebih hebat nenek moyang kita yang telah mengislamisasi budaya sarung Bengali dan budaya koko China sebagai bagian dari ibadah muslim kita ?
Melihat penjelasan di atas , Ahmed Shahi Kusuma berpikir Islam kan universal kenapa harus jadi Arabisme ???
lia pipit yuanita berkata,
September 29, 2009 pada 6:21 pm
dua jempol buat pak guru…..
d'santos berkata,
November 25, 2009 pada 3:08 pm
aq setuju Pak,
Universal pengikutnya Pak, Bukan yang laen.
karena menimani hanya satu tuhan dan satu rosul.
Lambang berkata,
Desember 23, 2009 pada 12:01 pm
Gambare endi, koq bablas…
Sebagian pengikut Nabi Muhammad SAW kadang memang kurang mengedepankan akal. Semuanya murni dogmatic perception.
Bantahannya kadang menunjukkan bukti ketololannya. “Agama itu jangan dipikir pakai logika, cukup diimani saja”. Emangnya waktu mengimani itu otak tidak bekerja dan akal tidak bekerja. Coba periksa dengan EEG sana.
Tapi ya memang susah debat dengan kaum fundametalis begini. Emosi mereka belum terkontrol dan kadang saya merasa mereka itu belum pantas disebut Islam.
ahmed shahi kusuma berkata,
Desember 31, 2009 pada 7:39 am
tenks…………atas komennya!
nah itu yg saya cemas….makin lama generasi islam dan Kristen tanah air semakin menjadi anti tradisi dan makin skripturalis tanpa penafsiran. Akibatnya menjadi ahistoris, dan mujtahid amatir……