Februari 10, 2009
Siap-Siap Jaipong Dilarang

Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika.Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok.Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.
Sekarang ini Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dengan pasti akan( sudah) melarang jaipong dikarena bertentangan dengan unsur agama Islam, karena mengandung goyang. Nah sang Gubernur menerjemahkan ini sebagai erotisme yang merangsang syahwat. Wah…wah… Ahmed Shahi Kusuma merasa prihatin nih… kenapa semua masalah didudukkan pada perspektif melihat perempuan dalam persoalan DAGING !
Hari ini Jaipong dilarang, lalu bisa2 di tempatku Ludruk dilarang karena pemainnya banci, juga sepak bola bisa dilarang oleh PKS karena pemainnya tidak memakai celana panjang. Wah..wah.. !
kurrimah berkata,
Februari 11, 2009 pada 5:37 am
cak.saya juga tidak setuju kalo tari jaipong dilarang,coz gimanapun kyaknya terlalu naif deh kalo segala sesuatu hanya dilihat dari satu sudut pandang saja apalagi ini adalah masalah budaya,apa kita sudah lupa gimana sejarahnya islam bisa berkembang dengan pesatnya,ya salah satunya karena islam mampu menyesuaikan diri dengan budaya yang ada,tentunya kita masih ingat kan gimana para wali songo menyebarkan islam di tanah jawa?
melanie berkata,
Februari 28, 2009 pada 11:31 am
Maklum Gubernurnya tidak punya sense of art dan takut kalo nonton Jaipong nanti tergoda untuk poligami ha ha ha. Gubernur aneh. Kekayaan budaya kok dilarang emangnya pria di Indonesia ini bodo bodo.
Ahmed Shahi Kusuma berkata,
Maret 2, 2009 pada 9:38 am
Tenks for 2 komen di atas
@Kurrimah, aku gak nyambung maksud ente…he..he, tapi kalo maksud ente bahwa para wali itu cerdas gak ngelupain local genius seperti aktifis islam sekarang yang cinta Arab membabi buta itu, aku setuju….
@Melanie> Tenks juga yah.. Kayaknya ini yang sering kita diskusikan bahwa kecenderungan kebangkitan keagamaan di negara kita menjadi sama artinya dengan puritanisasi yang cuma kopi paste budaya Arab . hal ini sungguh menghawatirkan bagi kita semua yang suka makan semangka dan beras, makanlah sekarang memupung belum diganti kurma oleh anak2 aktifis islam ( Arabophile) itu.. Gubernurnya nanti poligami ? Wah, kapan sekalian punya budaknya ???
budak cinta berkata,
Juli 6, 2009 pada 8:40 am
Gitu aja direpotin sama orang kurang akal, nah kalau situs ini lo baru OK
condro dewo berkata,
April 16, 2010 pada 6:11 am
Masak sampe segitunya negara mengatur urusan pribadi.
Mengurusi hal2 yg berhubungan dengan kebijakan kenegaraan aja bodoh, buat apa mengurusi urusan individu.Moral aparat aja bejat ngapain ngurus ursannya orang lain.
Pemerintah Indonesia biadab, tapi bukan negaranya