10.27.09
Enaknya Anarkisme Atau Marxisme Ya?

Almarhumah Rachel Corie, aktifis anarkisme
Di negara kita dua kata ini selalu bermakna negatif. Sering dianggap yang satu melengkapi yang lain. Kalau seorang berideologi marxist lalu dihubungkan dengan tindakan anarkis . Juga Anarkisme sering dihubungkan dengan pendukung Persebaya yang bonek dan bakar- bakar serta menjarah sana sini. Padahal jelas anarkisme tidak berhubungan dengan hal itu.
Ahmed Shahi Kusuma perlu menekankan lagi bahwa anarkisme adalah sebuah paham filsafat politik yang menekankan bahwa pemerintah dan aparatus ke bawahnya dan segala tetek bengek insitusinya tidak perlu lagi. Mengapa? bagi kaum anarkis ada beberapa penjelasan:
1. Manusia dengan semakin bertambahnya peradaban maka alur pikirannya semakin dewasa, sehingga tidak diperlukan lagi alat pengawas atas kegiatan masyarakat.
2. Pemerintah adalah perpanjangan tangan feodalisme penghisap rakyat dengan segala mitos yang menggunakan wewenang atas nama rakyat.Pemilu dan penarikan pajak yang gak ada sangkutnya dengan PKL, pelacur jalanan, rumah di pinggir DKA dan sebagainya.
Nah,sebagai konsekuensinya rakyat emoh lagi pada institusi bentukan negara. Pada masa penjajahan Belanda, rakyat kita membuat institusi2 semacam LSM untuk menentang Belanda, misalnya jaringan pesantren, dan apa yang penjajah sebut sebagai sekolah liar (Taman Siswa dan Muhammadiyah, meskipun Muhammadiyah akhirnya menyerah!).Jadi sokoguru pendidikan kita seperti KI Hajar Dewantoro adalah pendukung anarkisme! (ingat ia bahkan penerjemah lagu kiri Internationale dalam Bahasa Indonesia!)
Sementara banyak orang2 besar di dunia adalahpendukung anarkisme , seperti Leo Tolstoy (yang dipengaruhi Yesus), lalu Gandhi mengidolakan Tolstoy, John Lennon, almarhumah Rachel Corie yang gugur dilindas buldoser zionis.
Lalu bagaimana dengan marxisme? Cukup jelas bahwa marxisme adalah cambuk bagi kaum pemodal,yang dengan militansinya menggebrak paham kolot.kekuatan organisasi militan marxist yang didorong dengan ideologi dan komitmen mendorong advokasiyang kuat atas perjuangan kelas seperti dalam universalisme perang melawan fasisme zionisme Israel yang dilakukan PFLP,Baader Meinhof, Faksi Merah Jepang. Juga bagaimana Tito hantam Nazi, atau Mao yang dengan gerilya menghajar kaum penghisap.TIdak jauh-jauh, pada masa PKI lah petani dan buruh kere Indonesia, bisa digalang secara militan menentang borjuis reaksioner, sehingga peristiwa penembakan petani penggrap pada masa itu tidak ada.
Tetapi sejarah membuktikan,seperti yang Ahmed Shahi Kusuma amati, bahwa di luar itu marxisme dalam bentuk komunismenya sebagai tujuan akhir melahirkan monumen gulag milik Stalin, pembunuhan sistematis oleh rezim ateis yang tidak bebas yaitu Hixha, Pol Pot, banjir darah Madiun dan sebagainya.
jadi apa yang membedakan anarkisme dan marxisme ?. Kalau David Graeber , seorang sosiolog terkemuka pendukung anarkisme bahwa:
1. Marxisme cenderung menjadi wacana analisa dan teoritikal atas strategi revolusioner
2. maka Anarkisme menjadi wacana etis tentang praktik revolusi.
Kalau ini benar maka jelas bahwa anarkisme malah tidak berhubungan dengan kekerasan (lain dengan citra Suharto, fasis satu ini yang menggambarkan anarkisme dengan bakar2). Setidaknya kalau kita tangkap pesan anarkisme dan marxisme adalah adalah kepedulian pada mereka yang tidak beruntung,bukan karena orang2 miskinitu malas, tapi karena proses pemiskinan yang terus menerus oleh kebijakan negara.
Marxisme memang tidak selalu berakhir dengan Gulag atau Hoxha dan Pol Pot serta Madiun, malah menyegarkan seperti Sutan Syahrir , penganut marxisme yang liberal dan berasal dari tradisi Anarkisme, atau juga Chomsky yang menggabungkan keduanya. tapi omong2 sudahkah kita anarkis sementara kita masih ribut SIM dan KTP ????
rahmat surajudin berkata,
Oktober 27, 2009 pada 4:19 am
Cak Bagus
Anarkisme sering jadi penelikung bagi perjuanagn kelas.
Jauh lebih bagus merah menyala, marxisme komunisme Cak !
rindrah berkata,
Oktober 27, 2009 pada 6:12 am
bos gitu lo tulisan ttg anarkisme, keren
ahmed shahi kusuma berkata,
November 6, 2009 pada 12:32 pm
@rindrah
sebentar aku lagi menikmati tulisan bahaya anti kristus menurut ev. Herman kemala di http://forum.kidung.com/viewtopic.php?t=181 atau juga karya sir weal aheon yg mengajarkan bahaya persatuan agama2 dan pluralisme di dunia sebagai anti kristus http://www.gbihfc.org/content/view/2119/87/
ahmed shahi kusuma berkata,
November 12, 2009 pada 9:34 am
@rindrah
memang Jesus aja dituduh anti semit koq !
http://organicfaith.wordpress.com/2008/05/13/was-jesus-anti-semitic/#comment-1867