Februari 19, 2009

Ingat Bought Priesthood-nya Chomsky

Posted in Anarkisme pada 1:03 am oleh kusumahk

Bought Priesthood adalah istilah yang digunakan oleh Noam Chomsky ,seorang aktifis pembangkang terkenal dari Amerika Serikat untuk sekelompok bandit teknokrat, intelektual,kolumnis, surat kabar ,professor,akademisi, ahli lobi dan sebagainya yang mendukung para politikus yang berkuasa atau suatu kondisi status quo. Di tanah air kita pada masa orde baru terkenal nama Amir Santoso yang selalu mendukung orde baru. Peralihan dari masa orde baru ke orde reformasi yang diharapkan banyak membawa arus segar pemihakan kepada rakyat, ternyata tidak banyak berubah. Banyak dari lembaga pemikiran hanya menjadi tukang stempel, pengamin dari otoritas politik atau korporasi untuk memuluskan ambisi penggerus nasib rakyat yang satu kulit dan satu darah dengan mereka. Chomsky mengisyaratkan bahwa tugas dari intelktual adalah berdiri bersama rakyat, akan tetapi fakta menunjukkan bahwa sekarang terjadi pergeseran nilai akut, ketika intelektual adalah menjadi penyokong utama rezim komprador yang menentang kemandirian bangsa karena kepentingan individu. Di Amerika Serikat yang makmur, Noam Chomsky menjadi incaran rezim borjuasi kapitalis Amerika karena kritikan yang tajam misalnya pada kasus penyerbuan Vietnam, pemihakan Amerika terhadap rezim fasis Israel. Bagi Chomsky, rakyat Amerika harus sadar karena mereka membayar pajak yang tidak sedikit ( bandingkan dengan orang Indonesia yang membayar pajak STNK ratusan ribu rupiah, PBB, sewa tanah, pajak pengahsialan dll) tidak untuk rakyat tapi untuk kepentingan ideologi korporasi yang berorientasi profit atau lobbi zionis yang berorisntasi rasis di Gedung Putih ( lihat http://petras.lahaine.org ). Perang Vietnam atau dukungan Amerika pada Israel misalnya didirikan atas dasar musuh imajiner bahaya komunis ( Vietnam ) atau Islam ( Iraq atau Palestina) memerlukan dana yang besar yang dalam bahasa Chomsky, ” Perang yang tidak ada hubungannya dengan kita”

       Itu pula yang terjadi dengan negara kita, kita disuruh membayar pajak katanya untuk membangun jalan, sekolah, rumah sakit ( nya siapa?), padahal kita lihat langsung itu “semua” untuk kepentingan kasta atas negeri ini. Militer semakin makmur dengan tanda jasa tanpa kerjaan ( lihat Koramil), para anggota DPRD seperti barisan orang kelaparan anggaran, demikian juga para birokrat kita.

      Paradigma bangsa kita yang feodal berorisntasi kasta menjadi semakin terpinggirkannya kaum yang sudah minggir. Para kasta paria kita digusuri dari jalan, sementara ksatria tanpa kerja dan boros APBN itu kita jatah dari pajak kita, kita beri makan mereka sementara kita sendiri kelaparan.

      Sesunguhnya Chomsky sangat diperlukan dalam menjawab persoalan keindonesian kita.

2 Komentar »

  1. zulfan said,

    Sebetulnya ada ‘gak sich CHOMSKY “madein Indonesia” kalau ada saya dukung habis, sekarang ini banyak jenderal2 dan mantan jenderal2 di negeri ini yang kayanya minta ampun(bisa diwariskan lebih dari 7 turunan), karena enakan jadi “pemain” dari pada wasit pernah juga diberitakan dalam salah satu surat kabar ibukota, bagaimana para pak Polisi “prit jigo” memakir kendaraannya yang mewah(katanya sering pula gonta ganti) di halaman kantornya ya di Polda maupun di Mabes, kalaupun sekarang menjadi “alat” bukan alat negara tetapi ALAT KEKUASAAN, sepanjang semuanya dilabeli POLITIK jangan harap kepentingan RAKYAT terpenuhi, apalagi makin marak budaya TEBANG PILIH, betul kata RH OMA IRAMA “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin” mari KITA bersama tuk mencerdaskan bangsa ini untuk tidak memilih para POLITISI BUSUK dan PEMIMPIN yang membual dan membuat rakyat sengsara.

  2. Ahmed Shahi Kusuma said,

    Syukron katsiran pak kyai atas komennya. Raaituka..ya sayyidi !
    Pak Kyai, saya ingin menyampaikan bahwa kenapa saya suka mengkritik militer, biriokrat dan politikus kita karena peran swadaya masyarakat seperti yang disampaikan oleh Chomsky di negera kita semakin mengecil ! Gerakan yang menentang otoritas ini kan disebut anarkis. Suatu kata yang mengerikan di jaman Suharto.
    Indonesia sejatinya mengenal anarkisme sejak lama. Contoh ya pak Kyai misalnya… Pesantren. Institusi ini timbul dari ketidakpercyaan terhadap sistem Belanda, lalu juga Sarekat Islamnya HOS Cokroaminoto yang sangat merepotkan Belanda. Kenapa ? karena kedua lembaga itu independen. Nah saat ini perlu kiranya dikembangkan semangat Sarekat Islam ! Berani berkata tidak pada penguasa ! Maassalam !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: