Maret 3, 2009

Karl Marx Tentang Relasi Manusia Sebagai Alat Produksi

Posted in Marxist Abis pada 2:08 am oleh kusumahk

       Ide dasar  Karl Marx adalah bahwa sejarah manusia yang deterministik berdasar perjuangan kelas  semata. Meski dalam semua karyanya tidak begitu diperinci tentang apa definis kelas, terdapat benang  merah simpati Marx terhadap mereka yang marjinal. Mereka yang marjinal ini bukan karena mereka tidak memiliki etos kemandirian, justru mengalami pemiskinan dari faktor luar ( kebijakan negara, feodalisme akut sistem masyarakat,imperialisme dll). Dan yang menarik adalah kita pun terjebak dengan katagori yang sama ketika berhubungan dengan individu.

         Bayangkan ketika anda jam 10 pagi datang ke sebuah pusat perbelanjaan,masuklah  ke sebuah toko pakain dan sejenisnya, di situ segera seorang cantik cantik nan rapi menghampiri anda  dan dengan ramah menyapa anda bak raja tampan. Setelah anda beli dan dengan keramahan ia menyampaikan  goodbye dan trimakasih. Jam 17.00, anda mengambil motor anda di parkiran,maka jangan harap anda menemukan senyum si gadis seksi SPG tadi di pelataran parkir. Nah hubungan ini dinamakan oleh Marx sebagai hubungan alat produksi. Kita sulit menemukan senyum ketulusan dari seseorang, entah itu seorang tukang bakso, teller bank, sales Kartu Kredit, seorang customer service lembaga pegadaian, kecuali dalam relasi alat produksi semata.

        Kita hanya akan dinilai dalam kaitan seberapa banyak uang yang anda bawa, seberapa seksi anda merayu konsumen….

        Bahkan tarif ikut pengajian pun diklasifikan kelas kartu VIP atau Gold !

7 Komentar »

  1. LinggaYoni said,

    Sejatining menungso, yen iso njogo kekarepanne. Semua tulisan anda yang bersumber dari Marx terasa gak kekinian, dah basi…

  2. wong ateis said,

    @ Pak Ahmed saya mau mengomentari tulisan anda “Ide dasar Karl Marx adalah bahwa sejarah manusia yang deterministik berdasar perjuangan kelas semata.”

    Ya, di dalam buku2 tentang marx memeng demikian dan memang demikian adanya atau faktanya bukan??

    Tapi kalau cara berfikir anda hanya demikian maka sangat pendek sekali. karena anda hanya mengkopy paste pemikiran serta ideologi orang tersebut, bukannya menelaah serta menganalisisnya.

    Dan yang saya mau katakan adalah! Mengapa sejarah manusia didasarkan pada perjuangan kelas?? Mereka (yang berjuang demi kelas mereka) adalah sekumpulan manusia yang merasa tidak puas dengan kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang frustasi, karena keadaan mereka. Dan oleh karenanya mereka memberontak dan menginginkan persamaan kelas, kehidupan dll..

    ITU…

    Jadi sejarah bagi saya adalah pemberontakan atau perjuangan manusia-manusia yang tertindas dan lemah!!

  3. Ahmed Shahi Kusuma said,

    Tuk 2 komentar di atas.
    Rasanya semua bangunan keilmuan adalah mengambil dari pendahulunya, hal ini yang dinamakan sebagai “tradisi”. Katakanlah kita sekarang bisa menikmati Socrates dari Plato. Lalu Plato sendiri yang ditolak muridnya , Aristoteles, pun dipungut lagi oleh Plotinus. Dan yang menarik gagasan sufi2 besar mulai Hallaj, Kabir sampai Siti Jenar beranjak dari gagasan dasar Palto lewat Plotinus itu, sedangkan Marx cs berasal dari materialisme pra Socrates dsb.
    Kalaupun Mas LinggaYoni menganggap Marxisme basi itu kan perspektif anda yang nasionalis Indonesia-Jawa, bukankah anda melihat bahwa institusi2 merah putih kita keropos oleh feodalisme ( yang diserang marx) ?
    Mas LinggaYoni, bukankah feodalisme jawa yang sudah basi ?
    Sedangkan kalau Wong2 ateis membaca bahwa saya kopi paste dari Marx. Perlu diketahui bahwa gagasan Marx bagi saya adalah obyektif dalam menganalisa gejala masyarakat ( lo, bukankah anda yang cuma kopi paste faithfreedom, yang bagi saya bigot itu ?, kalau emang ateis kapan anda cuplik dari perspektif ateis barat, kok cuma faithfreedom? )
    tentang tafsiran anda bahwa sejarah adalah pemberontakan atau…dst. itu sah2 saja, bakhan saya tokh tidak menyetujui Marx dalam masalah diktator proletar atau Stalinisme. Kita bisa menikmati Marx dalam Syahrir, Tan Malaka, Semaun, atau Chomsky
    Dan bukankah ateisme itu juga sudah basi ?????

  4. LinggaYoni said,

    Bung Ahmed,Marxisme sudah basi, bagi saya karena hanya mengulangi peristiwa Madiun dan 1965. Bukankah kebudayaan Jawa lebih kaya dengan konsep mangan ora mangan sing penting kumpul ? Yo to Mas ?

  5. Romy said,

    Viva marxisme, Viva Hugo Chavez !

  6. Ahmed Shahi Kusuma said,

    tenks komennya LinggaYoni. Aku setuju juga dengan anda, dan itu bukankah berarti orang Jawa punya semangat sosialisme komunalisme. Merasakan senasib sepenanggungan ?

  7. Abu Najib said,

    Marxisme bukan jalan keluar, hanya tegaknya khuilafah Islam ! yang memberi kebahagiaan sejati tidak hanya bagi muslim, tapi bagi semua umat manusia !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: