Maret 11, 2009

Produk Melamin Dalam Makanan : Mitos dan Realitas

Posted in Anarkisme, Lingkungan dan Pembangunan, Marxist Abis pada 12:48 am oleh kusumahk

                                                 

 Negara kita terus dihebohkan lagi dengan produk yang tidak sehat bagi masyarakat. Setelah beberapa tahun lalu dihebohkan dengan penggunaan formalin (yang digunakan untuk mengawetkan mayat) dan sekarang mungkin terus dipakai  senyampang lemahnya pengawasan aparat yang sibuk menunggu gajian tanggal satu setelah libur panjang, maka masyarakat terkaget-kaget dengan pengunaan melamin dalam produk makanan kita.

        Melamin adalah seuatu senyawa basa organik. Ia merupakan metabolit sejenis pestisida. Melamin dalam industri modern , karne sifatnya yang mudah dibentuk itu, digunakan untuk membuat perkakas dapur, seperti panci dan sebagainya.Nah karena sifatnya yang tampak memadat kenyal itu para pengusaha suka mencampurkan ke dalam produk susu ( baca: anak2, siapa sih yang gak sayang anak ?) sehingga kepadatan itu tampak menimbulkan kesan produk itu berprotein tinggi. Itu semua terjadi karena selama proses pembuatan produk susu mengakibatkan penurunan kandungan protein.Di China sendiri tempak asal penggunaan produk ini 4 anak2 sudah meninggal sementara belasan ribu lainnya harus ngandang di rumah sakit. Sebelum digunakan ke produk susu dan biskuit , pengusaha2 gila itu juga memasukkan melamin ke dalam makanan untuk anjing dan kucing yang berakibat ratusan ekor di antaranya tewas. Kenapa, jelas sebagai bagian dari pestisida yang tidak cocok untuk kita konsumsi, melamin menghancurkan ginjal ( di satu sisi formalin yang digunakan pengusaha kita atau pewarna tekstil juga sama jahatnya). Cina yang masih mengklaim negara komunis kemudian menghukum mati para pelaku kejahatan ini, tanpa debat kusir pengacara model liberal karena jelas ada pemihakan pada korban manusia.

          Celakanya lagi ketika ibu-ibu bingung menentukan produk susu apa yang mengandung melamin, maka bak main judi, sang ibu hanya bisa berdoa mengambil peruntungannya. Ada asumsi kalau produk itu mahal dan terkenal, apalagi impor berarti berkualitas maka akan pasti akan daripada yang produk ecek-ecek. Terbukti kemudian pandangan itu keliru. Produk- produk yang diduga mengandung melamin ternyata justru produk2 yang punya nama. Gejala ini oleh Karl Marx disebut sebagai fetisme komoditas, yaitu suatu pemujaan terhadap sebuah produk bukan karena kualitas akan tetapi karena nama. Di sini terjadi sebuah hiperrealitas tentang merek2 yang seolah menjadi penentu dari kualitas sebuah produk, yang justru menggusur produk2 yang sebenarnya berkualitas tapi kalah modal.

       Yang lucu adalah BPPOM yang pasang badan melindungi produsen2 itu denga alasan peralatan standar WHo ( oui…lihat argummentasi ad hominem yang dipakai), denga pandangan kadar toleransi tertentu. Sedikit atau banyak potas ,atau pestisida tubuh kita tetap membunuh laksana racun tikus di rumah kita, bung !  Marx dengan benar menyebut orang -orang seperti ini sebagai komprador yang melayani kepentingan pemodal. Eh, Marx kamu keliru nanti akan dibuktikan lagi di pengadilan dengan sidang, sidang en sidang…sementara serombongan anak 2 cacat bangsa ini terus akan diprodksi demi fulus pemodal dan birokrat !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: