Maret 18, 2009

PKI 1926: Implikasi Tekanan Hidup

Posted in Marxist Abis pada 1:54 am oleh kusumahk

         Salah satu peristiwa sejarah di tanah air kita yang terlupakan oleh generasi saat ini adalah  peristiwa 1926. Rakyat di tanah hindia belanda berani melawan kekuatan Belanda ( yang baik hati mengajarkan dunia bebas). Sesungguhnya mengapa pemberontakan itu terjadi dan siapa di balik pemberontakan itu ?

        Sudah jamak diketahui bahwa organisasi PKI yang melakukan tindakan itu. Pemberontakan yang dimulai dengan sabotase rel kereta api belanda, jaringan telepon, dan penculikan ( pembunuhan terhadap orang Belanda dan kaki tangannya itu) sebenarnya dengan cepat dalam beberapa hari saja sudah disapu bersih pemerintah kolonialis melalui rejim imperialismenya yang keras dengan segenap  cecunguknya. Pemberontakan ini sebenarnya merupakan refleksi dari keputusan Prambanan setahun sebelumnya, melalui orang2 seperti Alimin,Darsono, Musso, dan sebagainya, sementara Tan Malaka mengangap bhwa tindakan itu tergesa – gesa, dan ia tidak setuju, akibatnya Tan Malaka dipecat dari PKI.

         Mengapa massa begitu tersulut amarahnya terhadap pemerintah sehingga mereka berani angkat senjata ? Pertama, bahwa orang2 ini sudah muak dengan sistem imperialisme belanda, yang memerintah bangsa lain dari negeri yang jauh , dengan pongah merasa sebagai ras terpilih. Kedua, tekanan hidup yang berat yang dirasakan anak bumi putra akibat pajak yang berjenis-jenis  ( salah satunya hoofgeld – uang pajak perkepala), belum lagi uang sewa tanah, pajak pertanian, dan sebagainya ( bandingkan sekarang pajak NPWP, PBB, STNK,usaha, odol,air sumur, dsb !). Masyarakat ( muslim umumnya) dengan memandang alam Jawa yang makmur dan tradisi beranak banyak dengan jelas tersiksa imperialis pemerintah ini.

        Para marxis tanah air yang lagi mabuk hiruk pikuk kemenangan revolusi Rusia, jelas saat itu makin yakin dengan ajaran Marxisme ( bandingkan dengan Hizbuttahrir sekarang yang karena Amerika ambruk, dan Soviet ambruk lalu segera mengambil kesimpulan bahwa sistem “Islam” yang tampil). Dan yang perlu digarisbawahi bahwa pemberontakan bukan terjadi di daerah abangan,Bali, atau Kupang, tempat2 yang tidak familier bagi gerakan Islam, justru pemberontakan PKI  1926 terjadi di wilayah santri !

       Sumatra ( barat),Banten, Pesisir Utara Jawa tengah adalah temapt2 revolusi itu terjadi. Para tokoh , pelaku adalah orang2 Islam bahkan beberapa di antaranya adalah ulama ( KH. Achmad Chatib, ketua PKI seksi agama seksi Banten), kaum peranakan Arab  ( Ahmad Bassaif)dan sebagainya, sementara para teoritikusnya dalah para Marxis dari berbagai keturunan, baik itu Eropa, Tionghoa ( Tu Thong Hin, di Banten), Musso, dsbnya. 

        Orang2 Banten ini membawa kain putih dengan tulisan/bendera syahadat yang dilambaikan ( bukan palu arit!) segera menyerang rumah2 tokoh2 antek  Belanda seperti  Mas Mohammad Dahlan, dan wedana R. Partadiningrat serta dibunuhnya Menes seorang Belanda di situ ( wah2 kalo ini dibaca faithfreedom, terorisme nih…). Senjata2 kaum “teroris” ini diperoleh dari Tionghoa2 yang punya toko yang percaya pada perjuangan Tu Thong Hin  ( yang sebagaimana marxisme percayai bahwa semua ras, agama, suku bisa hilang dengan perjuangan kelas). Hal ini menjelaskan bahwa para  “teroris” itu tidak gila dengan menghancurkan toko2 Tionghoa, bahkan mereka memburu R. Partadiningrat yang menghisap sesama kulit coklat yang  menjadi pemungut pajak.

         Ekor dari itu semua jelas, tokoh2  itu dibuang ke Digul, Bassaif kalo tidak salah ( nanti saya cek lagi, muncul lagi dalam pergolakan Banten 1940an menentang Belanda lagi), sementara bekas2 PKI 1926 ini  ( jika panjang umur) nanti muncul lagi dalam peristiwa 3 daerah ( lagi2 daerah santri PKI) yang ditulis oleh Anton Lucas.

      Peristiwa PKI 1926 itu kemudian yang mengilhami Sukarno dengan Nasamarx nya, yang ingin agar semua kekuatan revolusioner Indonesia barsatu melawan penjajahn ( baik bangsa asing maupun bangsa sendiri !). Di Digul tertanam jasad Aliarcham,KH Misbach dan sebagainya, mereka yang menjadi saksi bahwa Islam dan Marxisme tidak selalu identik dengan peristiwa Madiun !

2 Komentar »

  1. muthofarhadi said,

    KEKUASAAN

    Kemunduran umat muslim sudah disabdakan oleh Rasul Muhammad saw, sampai beliau mensabdakan bahwa akan muncul dalam generasi umat muslim yang tidak bertemu Rasul Muhammad saw namun memiliki keimanan sebagaimana Rasul Muhammad saw risalahkan. Generasi ini yang kemudian disebut sebagai generasi yang lebih baik dari sahabat.

    Sabda tersebut tidak menyebutkan generasi tersebut adalah satu generasi saja, namun disebutkan sebagai generasi yang tidak bertemu dengan Rasul Muhammad saw.

    Khalifah Usman yang meninggal karena dibunuh merupakan perjalanan sejarah dimana Rasul Muhammad saw pernah bersabda bahwa akan terjadi fitnah setelah Rasul Muhammad saw meninggal.

    Terbunuhnya Khalifah Usman menimbulkan fitnah bahwa pembunuhnya berasal dari kelompok Ali bin Abu Thalib. Dan ini terus berkembang dimasa pemerintahan khalifah Ali bin Abu Thalib sampai terjadi peperangan di antara sesama muslim dalam perang Shiffin.

    Perpecahan umat islam kian terasa setelah fitnah ini ternyata tidak bisa dihilangkan, sampai terjadi pembunuhan terhadap khalifah Ali bin Abu Thalib di saat khalifah sedang menjadi imam sholat.

    Dan Allah swt membukakan pintu fitnah tersebut dapat diketahui dengan tidak meninggalnya khalifah Ali bin Abu Thalib dalam pembunuhan tersebut. Pelakunya dapat diketahui oleh jamaah.

    Namun karena luka dari percobaan pembunuhan yang gagal tersebut akhirnya khalifah Ali bin abu Thalib meninggal.

    Kepemimpinan umat islam selama kekhalifahan sampai ke khalifah Ali bin Abu Thalib dari Rasul Muhammad saw, dijalankan oleh khalifah yang dipilih secara musyawarah.

    Setelah khalifah Ali bin Abu Thalib meninggal tanpa ada musyawarah terlebih dahulu dari pemimpin-pemimpin dan umat muslim, umayyah mengangkat dirinya sebagai khalifah menggantikan khalifah Ali bin Abu Thalib.

    Penduduk Makkah setelah prosesi penguburan khalifah Ali bin Abu Thalib bermusyawarah dan mengangkat Hasan bin Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah.

    Adanya dua kekhalifahan dalam umat Islam terjadi pertamakali pada masa ini, masa ini adalah masa dimana mereka masih bertemu dengan Rasul Muhammad saw, dan ternyata pada masa ini fitnah menjadi lebih besar dengan dilakukannya penyerangan oleh umayyah ke makkah, sehingga makkah yang disebut sebagai tanah haram telah dilanggar sendiri oleh umat islam.

    Perseteruan dua khalifah ini tidak berhenti ketika khalifah Hasan bin Ali bin abu Thalib berangkat menuju syam untuk menerima baiat penduduk syam namun diperangi oleh prajurit umayyah hingga rombongan khalifah Hasan bin Ali bin Abu Thalib meninggal bersama khalifah Hasan bin Ali bin Abu Thalib dalam peperangan tersebut.

    Setelah itu kekhalifahan di Makah diteruskan dengan diangkatnya Husein bin Ali bin Abu Thalib menjadi Khalifah dan hal ini masih tidak diakui oleh Umayyah yang kemudian kekhalifahannya diberikan ke pada anaknya dan dikenal dengan kekhalifahan Muawiyah.

    Muawiyahpun kemudian menyerang Makkah dan membunuh pengikut khalifah Husein bin Ali bin Abu Thalib, menawan keluarga dan beberapa kerabat yang masih hidup.

    Dan terlihatlah kekhalifahan tunggal dari Muawiyah, dalam perjalanan waktu Kekhalifahan dapat direbut dan terbentuk lebih dari satu kekhalifahan yang terbesar adalah kekhalifahan Abbasiyah, kemudian kalah perang dan diganti kekhalifahan yang terbesar adalah Usmaniyah sampai kekhalifahan Usmaniyah di Turki yang dibubarkan dan berganti dengan sistem pemerintahan Presidensial. Dan kekhalifahan ditempatkan sebagai lembaga di bawah kepresidenan, oleh Presiden Kemal Pasha Attatruk dalam lembaga dinniyah.

    Usaha untuk mengembalikan sistem khalifah terus dijalankan namun tidak berhasil mendapatkan suara dari seluruh negara yang berpenduduk muslim.

    Peperangan atau pembunuhan atau pemberontakan tidak hanya terjadi dalam sistem kekhalifahan. Sistem kerajaan, presidensial, dan parlementer juga memiliki sejarah pertumpahan darah dalam proses kepemimpinannya.

    Di negara Indonesia, setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 telah berganti sistem 2 kali, dan terjadi pemberontahan sebanyak lebih dari 2 kali.

    Setelah Orde Baru pergantian kekuasaan juga tidak lepas dari kekerasan dan hilangnya nyawa manusia, seperti pada peristiwa semanggi, DOM Aceh, pemberontakan OPM Papua, Referendum Timur-Timur dll.

    Negara ini diberikan kepada yang ingin berkuasa juga berakibat salah, diberikan kepada yang diberi kuasa juga menimbulkan konflik.

    Semoga Pemilu 2009 menghasilkan Pemimpin Negara yang bisa membawa Indonesia kedalam cita-cita Negara yang diberi Keselamatan dan Kesejahteraan, seperti Almarhum Ir. Sukarno pernah berpidato dalam sambutannya di pembukaan Konstituante yang berjudul ”Res Publica”.

  2. Ahmed Shahi Kusuma said,

    Tenks,saya juga ingin kasih komen ke blog anda tapi susah. Mungkin lewat imel, Insya Allah…. Mas saya tidak tauh ke arah mana tulisan sampeyan, tapi kayaknya anda bisa memahami konflik di antara khilafah itu lalu melompat ke arah khilafah “bisa dimungkinkan ?”, tapi anda kemudian mendoakan dalam pemilu nanti semoga kita memilih pemimpin yang cocok. Ok, memang anda punya ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: