September 16, 2009

Cerita Dari Jalaludin Rumi (1)

Posted in agama pada 5:29 am oleh kusumahk

   

 Saya (Ahmed Shahi Kusuma)  yakin bagi banyak dari kita , entah itu muslim, Kristen, Hindu mengagumi dan mengenal Rumi. Rumi  yang terlahir  di daerah Balkh ( sekarang perbatasan Iran dan Pakistan) adalah seorang yang terlahir dengan tradisi agung pengetahuan tentang karya2 klasik fikih Islam. Padahal sebagian besar manusia mengenalnya hanya sebagai mistikus muslim yang besar. Sepanjang yang saya ketahui sebagian besar para mistikus tasawuf Islam pastilah berangkat dari tradisi fikih ini. Dan jelas beliau dikenal luas sebagai penggubah Matsnawi, sebagaimana juga Imam Qusyairi dengan Risalahnya atau  Ghazali dengan Ihya nya.

         Di dalam karyanya Mtasnawi tersebut, Ahmed Shahi Kusuma mendapati kisah yang mengagumkan yaitu cerita tentang seorang juru adzan. Alkisah menurut Rumi, terdapat seorang juru adzan di sebuah negeri yang mayoritas non muslim. Juru adzan ini bersuara sangat buruk. Suaranya yang buruk untuk memanggil salat sangat dikenal oleh jamaah muslim di sekitar situ. Pada suatu ketika , seorang yang berpakaian indah bangsawan dan non muslim masuk masjid itu mencari sang juru adzan dan membawakan untuknya beragam makanan yang lezat penuh dengan nampan yang berisi makanan2 melimpah nan lezat itu. Orang2  di masjid kaget  betapa orang terhormat dan non muslim itu membawakan berkah sebanyak itu bagi si juru adzan bersuara jelek. Ternyata lanjut si Bapak tadi begini…

       Beliau adalah seorang pemuka agama non muslim yang memiliki satu2nya anak perempuan.Yang mencemaskan dirinya adalah anak itu dalam beberapa hari terakhir semakin giat mempelajari beragam agama dan ternyata ia sampaikan keinginan kepada ayahnya bahwa setelah setelah membaca beragam kitab suci itu ia yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Sejak hari itu sang ayah tidak bisa tidur nyenyak. Kebayang bahwa anaknya yang cantik dan tunggal itu bakal masuk agama Islam. Sampai suatu ketika ia dan anaknya itu naik di sebuah menara yang tinggi dan melihat keadaan sekitar kota, sampai ia mendengar suara si juru adzan yang buruk itu. Tiba2 sang anak cantik itu bertanya” Suara apakah itu yang sangat buruk?”. Sang ayah menjawab,” Itu suara muslim memanggil salat!”, si anak berseru,” Apa ??? aku tidaki pernah mendengar suara seburuk itu!!!”, kata anak itu…

        Beliau melanjutkan kisah lagi di hadapan muslim yang duduk di masjid itu.” Sejak itu aku bisa tidur nyenyak, karena anakku tidak sudi lagi ingin menjadi muslim, aku sungguh berterima kasih kepada si juru adzan itu. Andai  aku memiliki emas dan kekayaan sedunia ini maka aku akan berikan seluruhnya kepada juru adzan itu sebagai tanda terima kasihku…”

14 Komentar »

  1. kang _topa said,

    wah saya sepakat bila ada kursus vokal bagi calon bilal atau muadim, biar suaranya mirip josh groban, he, he. ya memang agama sejatinya tidak bisa menyesampingkan seni. karena agama itu indah.saya terperengah saat ada orang islam bilang musik yang identik dengan suara manusia dan bukan suara hewan itu deanggap haram. hidup kok sibuat rumit cak, gampang -2 aja ok, salam sejuk dari kang topa pise man- tanggulangin

  2. lovepassword said,

    Rumi juga terkenal dengan tarian muternya itu kan?🙂
    Mohon maaf lahir batin, cak.

  3. Cahya said,

    Di mana-mana suara yang memanggil Tuhan dengan ketulusan akan terdengar indah, itu jika hati kita penuh keindahan🙂

  4. wong2ateis said,

    apapun bentuk ritualitas dari agama adalah merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh manusia dalam upaya menambah ke-schizoprenia-an mereka semata. Ilusi akan Tuhan, Syurga, dan merupakan suatu upaya pelarian diri yang secara santun terhadap masalah yang mereka hadapi: Ketidakberdayaan diri.

  5. putera said,

    Bossssssssssssssssssssssssssss
    Gimanapun pokoknya sufisme OK di jaman modern iniiiiiiiiiiiiiii !

  6. ahmed shahi kusuma said,

    @wong ateis
    Apakah juga orang ateis bisa lari dari ketidakberdayaan diri ???? Apakah ente sudah bisa mengatasi kesulitan2 ???
    Ente menggeneralisasi bahwa seluruh teis adalah Descartesian, Leibniz dst….
    Itu sama saja dengan menggeneralisasi ateis dengan Pol Pot……..

  7. wong2ateis said,

    @Pak Kusuma
    Menggeneralisasi yah??? Saya tidak menggeneralisasi.. tepai hanya bicara faktanya.. Sekarang saya bertanya kembali kepada Bapak.. Agama apa yang bener2 tidak lari dari realitas???

    Saya sendiri, dalam mengatasi kesulitan2 meski tidak bisa, paling tidak tidak saya larikan kepada ilusi atas ketidakberdayaan saya. Ketidakberdayaan saya tetap saya lihat sebagai realitas ketidakberdayaan saya yang real, dan tidak saya larikan dari realitas menuju yang ilusi atau tidak real.

    @Putera
    Ya.. Sufi memang Oke di jaman Modern ini. Sebab cara sufi melarikan manusia dari realitas dengan caranya yang santun. Tidak seperti Agama fundamentalis lainnya yang secara frontal dan kekerasan.

  8. ahmed shahi kusuma said,

    @wong ateis
    Seperti kata Freud, kita kan terus berusaha untuk merasionalisasikan smeua tindakan kita dari masalah kita. KIta mengahadapi kesulitan2 dengan mengukur pengharapan yang ada pada orang lain !Bukankah ia berkata bahwa semakin kita modern semakin neurotik kita ?????
    Bukankah mencemaskan jika orang lain tahu hasrat2 kita, siapa diri busuk kita sehari – hari?
    nah neurotik itu yang selalu membentuk pertahanan diri kan ????
    Maka kita bisa menuduh orang teis sebagai neurotik, atau sebaliknya orang ateis juga bisa dianggap sebagai neurotik ? bukankah Freud sendiri ateis?
    Ada yang melarikan diri dengan obsesi pada surga dengan bidadarinya karena di dunia ia tidak mendapatkan….
    Ada yang menyumbang hartanya bagi para pendeta dan dai kapitalis…
    Matilah Tuhan Allah, Yesus, Gondoruwo,!!!!
    lalu, muncullah pelarian lain , ras unggul ( Heil Hitler), komunisme, Aa Gymisme penegakan syariat islam, zionisme dlll…Ini pun mati juga…
    Kurang puas ..aha…kita sembah saja kelamin Sheila Marcia (sementara ia melarikan dirinya ke Yesus), karu kredit, pertumbuhan ekonomi , perut dan perut…
    Pernah nonton casino Royale edisi 1967 ????
    Penjahatnya adalah seorang ilusionis yang merindukan kelamin wanita terus menerus, dan mengubah cewek jelek menjadi cantik… Tiada lagi cewek jelek!
    Tuhan mati, ciptakan tuhan baru lagi…..Allah mati, diganti kelamin Dewi Persik atau Sarah Azhari, bukankah mereka tuhan yang maujud saat ini ????
    Dan TV kita menyembah mereka setipa hari…..
    Allah jauh di langit……
    Dewi Persik … jauh di Jakarta
    Beli aja sabun tiga ribu kocok terus sampae ledeh !!!

  9. Cahya said,

    Saya senang jika sebuah diskusi dapat berlangsung dengan hangat, karena diskusi bukanlah debat, berdiskusi menyematkan makna duduk dalam pemahaman yang setara untuk bersedia saling belajar dan membuka diri, dan bukan mengunggulkan apa pun dari yang kita ketahui, toh pengetahuan kita ini selalu terbatas.

    @Wong Atheis: Saya paham (walau hanya sebatas nalar), manusia selayaknya memahami diri dan kehidupan secara murni. Tidak lari dari realita, dan justru hidup sepenuhnya bersama di dalamnya. Namun Agama (jika kita sebut fenomena), adalah bagian dari realita kehidupan, apakah menghindar darinya atau justru menyelaminya dan menemukan apakah yang ia tawarkan adalah hal yang real ataukah cukup sia-sia sehingga dapat kita tinggalkan di belakang.

    @Ahmed Shahi: Saya tidak tahu apa yang Freud tuliskan, namun tulisan Bapak setidaknya memberikan satu – dua makna yang tersampaikan. Namun jika boleh saya berbagi. Ada orang-orang yang melewati jalan “berbeda” dalam kehidupan ini dibandingkan orang-orang pada umumnya. Mereka meninggalkan konsep agama dan ketuhanan yang dikenal oleh orang-orang pada umumnya, mereka pun kadang disebut atheis (walau saya tidak tahu apakah hal ini sama dengan Freud). Yang mereka tanggalkan dari diri mereka adalah konsep, namun bukan realita.

    Contoh awalnya begini, jika saya memandang sebuah bunga, maka seketika saya mengenali itu sebagai bunga mawar misalnya, kemudian saya tahu warnanya merah, dan kemudian saya menyukainya. Namun apakah saat saya suka, saat saya mengenal itu bunga mawar, sungguhkah saya sedang “memandangnya”? Ataukah saya memandang dan mengenalinya melalui ingatan yang saya kumpulkan dari sejak dulu, bahwa jika saya melihat “itu”, maka itu adalah bunga mawar.

    Mereka yang menyelidiki lebih jauh ke dalam kehidupan, menemukan bahwa ketika saya mulai mengenal bunga mawar dari ingatan masa lalu, maka yang saya lihat saat itu adalah konsep tentang bunga mawar dalam pikiran saya, saya mengenalinya melalui sebuah konsep, bukan melalui realita. Konsep itu menjadi begitu tua dan lusuh, jauh dari bunga yang sesungguhnya hadir pada saat ini juga yang segar dan penuh kehidupan yang adalah realita.

    Sayangnya, konsep dalam pikiran kita ini melahirkan ikatan, bisa menjadi suka, bisa menjadi tidak suka.

    Saya melihat bunga mawar dengan konsep, dan saya menyukainya. Kemudian ada orang berkata bahwa bunga itu sejatinya tidaklah seperti itu, saya menjadi gusar karena saya merasa sungguh-sungguh memandang bahwa bunga ini indah, dan saya menjadi tidak suka pada orang itu. Dan dengan demikian secara tidak sadar saya telah memisahkan sebuah kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya di dalam diri saya, karena saya terikat dengan konsep.

    Ya, ada orang-orang yang menanggalkan konsep untuk melihat apa yang sesungguhnya ada di balik semua itu. Jadi ada yang menanggalkan konsep agama dan ketuhanan untuk melihat sejatinya apakah sesungguhnya itu. Mungkin mereka juga bagi yang berkonsep theisme disebut kaum atheis.

    Lalu apakah mereka menciptakan Tuhan baru? Saya rasa jika mereka masih merasa perlu Tuhan, mereka tak akan menanggalkan konsep ketuhanan.

    Jika agama kita mengajarkan agar kita menyebarkan kasih sayang, kemudian kita menjadi gusar ada yang mengusiknya, maka kasih sayang bisa menjadi padam secara seketika.

  10. wong2ateis said,

    @Pak Kusuma
    Tuhan yang Mati bukan hanya tuhan allah, yesus, brahmana, apolo, zeus, tetapi juga tuhan2 yang lainnya. tuhan bila dalam konsepsinya adalah sebuah pemutlakan dari sebuah realitas maka kita juga harus membunuhnya. tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. termasuk dalam teknologi dan sains. jika Bapa membaca the end of science bapak akan mengerti.

    Masalah psikoanalisis khususnya Freud, saya mendapat banyak ide baru diantaranya adalah bahwa freud hanya mengenal teori evolusi tidak sebegitu mendalamnya. sehingga saran saya kepada bapak baca buku2 richard dawkins.

    Thank’s!!

    @Cahya
    Tuhan dan agama dalam pandangan kamu seperti nama dan kelamin kamu… hahaha… feminisme.. ya.. mungkin tuhan dalam perspektif diri kamu adalah tuhan yang memiliki sifat2 feminisme… seperti dewi kuanim yah??? hahaha…

  11. Cahya said,

    Maaf, mungkin saya agak sulit memahami hal ini. Bp Wong Atheis, saya kira selama masih bicara dalam tatanan konsep, apakah itu Ketuhanan, apakah itu feminisme, atau menambahkan dengan maskulinisme, saya melihat seperti sebuah riak permukaan batin, toh sama saja. Sebuah riak yang datang dan pergi, semua menjadi tidak bermakna, lalu apa kepentingannya ?🙂

  12. ahmed shahi kusuma said,

    @Cahya
    Saya dah berklunjung ke blog anda. Menarik juga resensi anda ttg musik. I am really flattered that u visit this blog. Trimakasih…
    Saya memahami konsep anda. Memang Tuhan , tuhan dan pengalaman berketuhanan serta berspiritualitas sering saling berjumbuh meskipun tidak saling sama. saya bisa menyelami pandangan anda ttg konsep Yin dan Yang dan juga gagasan Tao ttg hal ini……………
    Bukankah Yesus belajar dari kearifan kaum Budhis, dan asketisme Neo Paltonis tersebar sampai ke daratan muslim !!!
    Bukankah mawar bisa disebut dengan seribu nama????
    @wong ateis
    saya kira anda belum memahami maksud Pak Cahya. Ateisme pun bisa berwujud asketis, sementara teis pun bisa jadi pengumbar birahi….
    Sementara ttg Darwin , saya punya bukunya langsung yang berbahasa Inggris,The Origin of Species……..
    OK, kalo anda krsiten saleh seperti Reagen atau Bush pasti berpikir bahwa Ateisme salah hanya karena Soviet ateis bubar. kalo anda yahudi saleh, jelas ateis PFLP salah, karena Israel hancurkan PFLP (Bush dibantu Tuhan, Soviet tidak, dan secara mendasar ajaran Ateis salah hanya karena itu) Padahal bukan kan ???
    Nah demikian juga (seperti yg saya tulis dalam blog ente dulu…
    Ateisme tidak akan salah hanya karena darwin salah misalnya( saya sangat kritis terhadapnya)……
    atau Tuhan ada hanya karena kata Descartes, atau harun Yahya…
    tetapi bagaimana kita memaknai hidup, spritualistas, daging dll, nah itu Tuhan dan daya hidup…

  13. condro dewo said,

    Manusia selalu melihat dari perspektif yang sempit……….

  14. ahmed shahi kusuma said,

    Ayo Condro monggo dieksplorasi maksude sampyan opo?
    Skripsi ne mantap ora?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: