April 15, 2010

Arogansi Produk Feodal Borjuis Di Priok

Posted in Agama Pembebas, Anarkisme, Lingkungan dan Pembangunan, Uncategorized pada 1:00 am oleh kusumahk

        Arogansi Wagub DKI Prijanto dalam menertibkan, dan menjaga “keamanan” berbuah  anyir darah. Keberanian (baca: kepongahan) orang2 birokrat yang melayani borjuasi (dan ia sendiri bagian kelas pemodal).  Denagn keyakinan ,percaya diri yang overconfidence, ia dengan cara brutal mengusir mereka2 yang dianggapnya menentang hukum. prijanto telah menjadi otoritas dan ia menikmati peran itu. Sekarang fenomena yang semakin menajdi-jadi adalah pemerintah dengan UU yang ia bikin sendiri, diamini sendiri punya alat untuk memberangus rakyat yang dianggap melanggar UU, dan sekali lagi yang paling parah kena adalah kaum marjinal (entah itu keyakinan, akses daerah, kemiskinan, dll). Hukum positif sendiri , yang berarti kepastian hukum menurut James Scott dalam “Perlawanan Kaum Tani” adalah rubah yang siap melahap kawanan domba.

       Arogansi Prijanto menjadi-jadi ketika di televisi, ia menyatakan bahwa tanah itu milik negara, yang sewaktu waktu bisa diambil.  Gila! bukankah makam seorang tokoh masyarakat biasanya dikelilingi  oleh umatnya. Dengan demikian maka kalau dianggap Tempat Pemakaman Umum, berarti salah alamat. Hal ini karena kebajikan sang pemilik lahan yang memberi sebagian tanahnya untuk warga lain yang dimakamkan di sekelilingnya.

       Arogansi Prijanto yang lain, ketika ia menegaskan berkali-kali bahwa pemerintah telah memindahkan kerangka mereka yang meninggal di TPU Semper. Coba kalau ia berani ngomong di Jawa Timur (Surabaya , makam Sunan Bungkul) dipindah ke TPU Ngagel, atau melihat kesombongan Prijanto, bahkan makam Sunan Ampel bisa digusur diganti Pasar Atum IV, jelas ia dihujat warga Nahdiyin, dan diglangsih seperti tahun 1965!  (sangat bersyukur di Jatim ,gubernur Jatim atau wakilnya sangat memahami hal ini!)

          Kalau ia tinggal di Roma, ia bsa dengan sombong mengubah Basilika St Petrus ke Wembley, untuk dijadikan markas AS Roma,atau persis seperti kelakuan Wahabi2 yang ingin meledakkan   makam Rasul Al Musthofa  SAW, dan mengganti dengan kandang unta!     

         Di Surabaya, yang menjadi warning adalah kepemilikan surat hijau. Atas nama hukum positif , pemerintah bisa mengambil alih jika digunakan  untuk “kemaslahatan umum”. Daerah Pasar Kembang , bisa digusur atas nama pembangunan menjadi TPA.  Daerah Ngagel bisa diganti menjadi Mall, dan Pacar Keling bisa diubah menjadi Lapangan Bola Kelas Internasional, bahkan daerah Perak bersurat hijau bisa diubah stasiun peti kemas melebihi Priok sebagai proyek ambisius Gubernur Anu!

        Intinya pemerintah semakin arogan dengan mengutamakan apa yang disebut ssebagai penegakan produk hukum. Padahal produk hukum dibuat sepihak, ditafsirkan secara borjuis dan kelas penguasa, akhirnya sekali lagi maling helm dibakar , maling pajak digendong-gendong!

20 Komentar »

  1. Sebenarnya ada peran penyeimbang dari wakil rakyat kita..
    entah mereka kerja apa, malah ikut dipukuli satpol kayaknya
    berharap semuanya pulih

  2. lovepassword said,

    Gayane Priyanto memang marahi weteng mules…

    Saat ini adalah titik terendah kepercayaan rakyat kepada aparat dan pemerintah. Masalah Century, KPK, Gayus, markus, dsb membuat rakyat kecewa. Dan satpol PP sejak dulu kan citranya memang gak pernah enak karena dibenturkan paling depan. Semua aparat pemerintah lebih2 pemimpinnya sebaiknya paham kondisi psikologis ini.

    Saya rasa aparat memang agak kebesaran gaya karena pada mulanya merasa menang jumlah sehingga mengabaikan upaya negosiasi. Kalo sekarang Priyanto ngomongnya manis kan sekarang. Kemarin2 ya ngapain ngomong , lha wong merasa menang. Mereka nggak sadar bahwa di tengah suasana seperti sekarang, sedikit api bisa mengundang kehadiran warga masyarakat yang dalam hati sama dongkolnya kebetulan dapet pemicu.

    Endingnya aparat negara terpaksa mumpet di depan rakyatnya sendiri : Rak Kajen bahkan sampai nggak bisa lewat mumpet di pojok pelabuhan dievakuasi dengan kapal laut.

    Kalo polisi akhirnya dipaksa keadaan malah mumpet karena menjadi bagian dari konflik kepentingan, lha lalu siapa yang jadi penjaga keamanannya. Itulah dilemanya,

    SALAM

  3. @Lovepassword
    Seperti biasa komen sampeyan selalu siiiiiip, top markotop!

    Nah, tentang siapa yang menjadi pengamannya (kata sampeyan) malah kalo saya pikir bukankah polisi yang baik kalo bisa seperti tentara koramil yang ayem. Artine ya manusianya dah pada sadar…..
    Dialog dan diwongke diperlukan, maka tidak akan ada perang seperti itu.
    Smakin pemerintah mengedepankan hukum positif, artinya gak percaya lagi dengan rakyatnya, kan???

  4. Rahadiyan Dwi Nugroho said,

    Biasakan memecahkan permasalahan dengan cara persuasif, merakyat, dan ingat jangan tonjolkan ego! Manusia Indonesia punya harga diri. Di hadapan Tuhan kita semua sama rata.

  5. chondro dewo said,

    apa yg dilakukan oleh wagub jakarta itu adl bentuk keseimbangan dlm kehidupan. artinya, bila ada baik pst ada buruk, bila ada kaya pst ada miskin.
    demikian pula yg dg lakukan oleh wagub jakarta itu adalah bentuk untuk menekan segala bentuk ketidak disiplinan di jakarta. dan apabila itu dibiarkan tanpa ada sebuah penekanan spt apa yg dilakukan oleh wagub itu, maka akan timbulah sebuah kota yg amburadul.
    jadi menurut saya pribadi itu adl hal wajar, yg tidak pelu dibesar2kan.
    namun alangkah baiknya pemerintah berupaya menertibkan pkl dsb… itu dg cara membuka lahn2 baru bagi mereka…
    demi rakyat, dan oleh rakyat…!!!!!!!!!
    negara ini tercipta krn adanya rakyat..!!!!!

  6. Lambang said,

    Kalau saya malah menduga ada strategi besar dibalik kasus Tanjung Priok itu. Sengaja dibuat sedikit huru-hara walaupun ternyata akhirnya ada korban yang diluar perhitungan. Setelah itu nanti akan muncul usul dari para tikus-tikus berdasi untuk memindahkan semua terminal peti kemas dari Tanjung Priok ke tempat lain yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dan lebih luas.
    Hoho… proyek bernilai trilyunan sudah di depan mata, tinggal kita tunggu siapa yang jadi Pimpro-nya…🙂

    Kalau perlu pusat pemerintahan di Jakarta bisa dipindahkan juga ke Jonggol, Sentul atau Ciracas. Untungnya usulan semacam itu di jaman Soeharto tidak jadi terlaksana. Sialnya, usulan itu bisa muncul lagi sekarang…🙂

  7. ahmed shahi kusuma said,

    @Lambang
    Wah Mas Lambang, sekaran menjadi pemerhati persoalan kelas juga. Marx mengajarkan materialisme yg membentuk ide2. Dan Mas Lambang tertarik juga.

  8. m4stono said,

    sewbaiknya malah ibukota itu diluar jawa spt usulan bung karno ya tepatnya di kalimantan, saya kira sudah saatnya memisahkan ibukota ekonomi dgn ibukota pemerintahan spt amrik, yg mana washington DC yg tidak terlalu rame tapi New York malah ngudubilah syaiton ramenya:mrgreen:

    saya malah suka lho sama priyanto dgn gayanya yg tenang dan kalem bikin org gemes:mrgreen: terlepas mana yg benar dan mana yg salah, kalo mau jujur sih semua salah dan semua juga ada benarnya, kebenaran dan kesalahan itu kan relatif tergantung sudut pandang masing2:mrgreen:

  9. @mastono
    Terimakasih mau bermain di sini lagi.
    Poin sampeyan ada dua. satu ttg lokasi ibukota
    dua ttg yang benar dan yang salah

    Poin pertama, saya setuju dengan anda. Saya malah senang kalo Mataram, atau Balikpapan atau Poso jadi ibukota Indonesia.
    Poin kedua, ini saya berbeda pandangan dengan sampeyan. Mungkin saya sudah terlalu kesengsem dengan sosialisme maka sering atau cenderung anti pemerintah; karena cenderung merampas kemerdekaan, dan cenderung sok tau terhadap rakyat Indoensia yang termiskinkan. Saya tergandrung-gandrung dengan pola2 Syahrir, jadi kalo kita berbeda pandangan ya rak gak opo2 toh!

  10. m4stono said,

    hihi kamsud saya gini mas, kalo misalnya seorang pemimpin yg punya persepsi yg menurut dia itu benar tapi menurut rakyatnya salah maka manakah yg benar? kalo saya sebagai rakyat ya tentu menganggap dia salah besar karena saya memang rakyat………………tapi kalo saya priyanto misalnya gitu maka saya akan mengaku benar denga dalih apapun…………..kalo misalnya semua atau sebgaian besar rakyat menganggap dia si pemimipin salah ya copot aja kalo ndak bisa diperbaiki……………gitu aja kok repot:mrgreen: kata gusdur

  11. @Mastono
    Ya..ya..
    Maka ketika dua kelas berpandangan subyektif, dengan menggunakan pandangannya tokh,dan dilihat secara kelas, maka kelas Prijanto tampak menjadi horror….
    Begini, Prijanto tampak tidak memahami pesan kultural bagi warga islam tradisional. Semula dengan PD ,ia menekankan sudah memindahkan makam (jujur saya tidak tau bahasa Indonesia , kata makam itu , berasal dari kata makam atau maqom, karena keduanya ada dalam bahasa Arab)….dan makam itu seorang tokoh agama. Pun seandainya tulang Habib Al Haddad dipindah ke Pasar Sarinah, ditaruh ke Aquarium dan dilapisi peti model Firaun, orang 2beripikir bahwa itu lebih menyerupai ogoh2 daripada tempat ziarah (artine daya yoninya kan ilang!!!)
    Di Jawa Timur, ada pesan kultural. SEcara tidak tertulis Gubernur dan dan wakilnya tidak berasal dari satu pesan kultural. Pak De Karwo, orang Mataraman, sedang Gus Ipul orang Jombang. Saya gak bayangkan seandainya dengan sombongnya Gus Ipul menantang menggusur sendang Anu di kota anu, yang sering digunakan acara Suroan oleh orang Mataraman. nah ini saya kira pesan kultural yg salah. Saya tidak tau kenapa lagi Fauzi Bowo tidak memahamai pesan kultural ini.
    NU berdiri taun 1926 sebagai reaksi atas usaha kaum Wahabi mengebom makam Nabi SAW untuk digunakan tempat penambatan unta dan kuda.

  12. m4stono said,

    nah ini menarik mas……..ya saya sependapat harus memperhatikan kondisi psikologis masy setempat, jujur saja mas saya kurang suka dgn yg namanya ziarah bukan apa2 karena memang ndak punya duit buat ke makam2 terkenal:mrgreen: sedangkan kuburan simbah juga jauh, mosok ke kuburan org tak dikenal walopun juga itu baik2 saja utk mengingatkan akan kematian.

    soal yg namanya wakil dari pemimpin/penguasa yg kurang baik itu sejak dari dulu sudah banyak mas, kalo dijogja ada patih danurejo yg bersekongkol dgn belanda entah pas jaman HB berapa lupa je, ada juga legenda batik Madrim patih dari prabu Anglingdarma yg juga kurang baik dan juga presiden SBy dgn pattihnya pak Jk juga konon kurang baik, tapi ya ini katanya lho dll:mrgreen: …..tapi intinya adalah masy kita sejak jaman dulu sudah sudah mengenal kalo biasanya raja/pemimpinnya baik maka ada perimbangan patih/wakil yg kurang baik.

    saya juga agak mensinyalir bahwa makam yg digsusur itu mendapat tekanan dari pihak2 tertentu yg “anti” thd ziarah, bisa jadi kelompok yg anti ziarah tepuk tangan melihat makam digusur:mrgreen:

  13. ossmed said,

    begitulah mas.. hasil didikan jaman feodal kapitalis…

    salam kenal nihh
    sedang blogwalking dan ketemu blog menarik ini.. ditunggu kunjungan baliknya di http://www.ossmed.com

  14. ahmed shahi kusuma said,

    @Ossmed
    Salam kenal juga. Maaf saya agak terlambat menjawab. Nanti Insya Allah saya intip

    @Mas Tono
    Tenks juga atas masukannya. Saya juga jadi ingat Makam Keluarga Diponegoro. Perang ini meletus karena Belanda tidak memahami arti penting makam dalam kultur Jawa.
    Saya sebenarnya ingin juga sering komen ke tempat sampeyan tapi teknisnya di blogspot saya agak kesulitan.
    Salam!

  15. darahbiroe said,

    kenapa tidak pernah belajar dari pengalaman
    dan kesalahan yang sama terus2an berulang dan akan teruskah seperti itu
    sungguh terllluuuu

  16. Aji Arjeendt said,

    4 Mas Ahmed.. dalam penggusuran ini saya sangat menentang kebijakan pemda.
    tapi kenapa ya, kalo ‘issue’-nya seperti ini ormas dan warga sangat frontal berjibaku untuk melawan penggusuran tersebut.
    coba deh kalo pkl, psk, rumah bordir ‘murahan’, tukang ‘jamu’, dan gelandangan yg di gusur pada kemana ya orang2 itu?
    malahan gak jarang juga mereka pada saat itu justru berada di barisan yg ngegusur, dan bahkan lg untuk yg di kategorikan ‘maksiat’ malah sebagai inisiator dr pngusuran..
    agama sekarang jadi bahan ‘dagangan’ ….
    dan tulang orang mati lebih berharga dari orang yg hidup.
    sekali lagi, saya menentang penggusuran di Koja. tapi seperti yg saya bilang tadi.

  17. Aji Arjeendt said,

    maaf.. komen yg ini hanya eksplanasi dr komen di atas.” coba deh kalo psk, pkl, rumah bordir ‘murahan’, tukang ‘jamu’, dan gelandangan yg di gusur pada kemana ya orang2 itu?”
    yg saya maksud dengan orang-orang itu adalah ormas dan warga yg gagah berani yg secara frontal melawan penggusuran di koja.
    abis td pas saya baca komen yg saya tulis di atas, saya bingung juga dengan kata ‘orang itu’. takut kalo ada yg ngebaca bingung. maaf sekali lg mas.
    salam…..
    ehmm nanya boleh kan mas!
    kalo mas nulis kata Masalam itu senagaja di w dibalik jadi m, apa ada makna yg terkandung? apa beda arti antara wasalam dengan masalam? apa salah ketik? tp yg terakhir kayanya gak ya, karna sering bnget saya baca masalam. haha. peace…biar lebih akrab.

  18. Aji Arjeendt said,

    maaf.. komen yg ini hanya eksplanasi dr komen di atas.” coba deh kalo psk, pkl, rumah bordir ‘murahan’, tukang ‘jamu’, dan gelandangan yg di gusur pada kemana ya orang2 itu?”
    yg saya maksud dengan orang-orang itu adalah ormas dan warga yg gagah berani yg secara frontal melawan penggusuran di koja.
    abis td pas saya baca komen yg saya tulis di atas, saya bingung juga dengan kata ‘orang itu’. takut kalo ada yg ngebaca bingung. maaf sekali lg mas.
    ehm nanya boleh kan mas!
    kalo mas nulis kata Masalam itu senagaja di w dibalik jadi m, apa ada makna yg terkandung? apa beda arti antara wasalam dengan masalam? apa salah ketik? tp yg terakhir kayanya gak ya, karna sering bnget saya baca masalam. haha. peace…biar lebih akrab.

  19. ahmed shahi kusuma said,

    @Aji
    TRimakasih lagi mau berkunjung ke sini.

    1. Ttg ormas2 yg menentang penggusuran kemaren. Nah itu masalahnya, saya setuju dengan anda, kenapa ormas2 itu berani mati hanya pada pemahaman agama sempit. Kata Marxis, resistensi seperti ini adalah perjuangan untuk membela kesadaran palsu (dialektika idelisme!).
    kalau sampeyan baca BUKU DI Bawah Bendera Revolusi (jilid satu), Soekarno dengan jelas menunjukkan kebersamaan anatara/titik temu Islam dan Marxisme, tetapi itu hanya sampai bagi mereka yang tercerahkan (raushanfikr= dalam kata Ali Syariati). N
    Nah yang Islam sontoloyo (bahasa Soekarno) tidak akan tergerak apa penggusran PKL, bahkan ormas2 itu terlibat dalam apa yg mereka sebut operasi melawan kemaksiatan (menggusur WTS, waria dll), itu yang saya (mencoba menapak tilasi semangat Ali Syariati dan Soekarno) tidak setuju…
    Bagus anda sangat paham akan persoalan kelas di sini, dan penyelewengan menjadi persoalan idelaisme yang absurd. Di Sedang Bedagai terjadi penggusuran tokh tidak seramai Priok karena “HANYA MASALAH LAHAN BUKAN PERSOALAN PERJUANGAN ISALM, INI KAN KONYOL”
    dan konyol adalah sontoloyo………
    2. TTG Ma’assalam, itu kan Bahasa Arab… dari pada selalu menggunakan kata wassalam (yg kalo diterusin menjadi warahmatullah…..), saya pikir terlalu sok rel;ijius lah, saya pikir saya bukan Gayus yg sok relijus itu .
    Saya ingat waktu belajar Bahasa Arab dulu, kalo selamat tinggal , selain do yg terkelnal itu ada doa perpisahan , trus saya pikir yg sekuler aja, nah itu ma’assalam…with atau in peace!!!!!

  20. Aji Arjeendt said,

    4 Mas Ahmed. oke deh. saya mengerti sekarang, dan thankz ya atas arti Ma’salam nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: