Juli 26, 2010

Belum Saja Satpol Dipersenjatai Pistol Tajam Saat Bertugas; Di Monas Sudah Dipakai Pistol Yang Lain Yang Enak

Posted in Anarkisme, Lingkungan dan Pembangunan pada 4:38 am oleh kusumahk

Pemerintah borjuasi yang melayani kelas pemodal saat ini makin menunjukkan rasa arogansinya terhadap rakyatnya dengan menyediakan dana pembelian senjata api bagi aparatusnya,yaitu Satpol PP, demi apa yang pemerintah maksudkan yaitu melindungi dan menegakkan hukum.  Tindakan penentangan langsung pemerintah berhadapan dengan rakyat bawah yang paling sering melanggar hukum ini (karena akses rakyat proletar terhadap kepatuhan hukum  dianggap rendah oleh pemerintah borjuasi , tanpa memahamai sebab – ketidakpatuhan rakyat terhadap hukum, seperti ruwetnya birokrasi mengurus KSK, pengurusan tanah, SIM yang mencekik leher,akses surat nikah yang mahal dll)  menunjukkan pemerintah dengan mempersenjatai Satpol PP siap berhadapan dengan rakyat kecil. Kecongkakan pemerintah dalam mengatasi masalah tanah dengan mengrim Satpol PP ke Sedang Bedagai, Tapanuli Tengah (kasus sebuah Pembangkit Listrik) dan terutama peristiwa Priok menunjukkan bagaimana sikap pemrintah borjuassi yang berkedok atas nama kepatuhan hukum tertulis. Peristiwa Priok meyakinkan pemerintah borjuasi bahwa tewasnya 3 bangkai Satpol PP karena melawan massa tidak akan terjadi lagi, tapi kalaupun ada korban maka seharusnya pada massa yang dianggap membangkang, lalu seprti biasa akan muncul exskuse bahwa itu karena ulah pembangkang yang terprovaksi dan destruktif.  Massa proletar tahu bahwa hukum tertulis adalah rubah (seperti kata James Scott, dalam perlawanan kaum tani).

Yang menunjukkan rasa ketidakpunyaan kemaluan pemerintah beoliberal dan neoliberal  ini adalah pemerintah minta penyediaan senjata apai Satpol PP dari dana APBN yang jelas diperoleh dari pajak yang dibayar oleh kaum  kecil dalam membayar pajak odol, sabun, tol, PBB, STNK,. dll. Rakyat kecil yang bekerja sebgai PKL, yang merupakan korban utama Satpol PP disuruh membiayai pajak, yang uangnya dipakai untuk menembak mereka. Gila !!!

Santai dulu Bung, jika akhirnya usulan penyediaan pistol Satpol PP ditolak, setidaknya dua anggota Satpol PP Jakarta  Cipto Ariyanto (26) dan Suharyanto (37) merupakan pegawai honorer di Pemprov DKI telah memakai  pistol juga, tapi tidak ke jantung rakyat kecil, tapi mulut seorang gadis 16 tahun, karena gadis ini melawan hukum pemerintah borjuasi. Setidaknya peluru pistol Mas Cipto  dan Suharyanto  Satpol  PP ini, pemakan APBN agung ini, tidak bikin mati seprti penjual pentol yang anaknya mati di Delta Plaza Surabaya, tapi keluar cairan putih orgasme nikmat ya Mas Cipto Ariyanto, dan Suharyanto?? (sumber http://metro.vivanews.com/news/read/165196-paksa-layani-seks–satpol-pp-monas-dibekuk )

9 Komentar »

  1. yuner said,

    tidak pakai pistol saja satpol PP sudah banyak berulah dan Suka main hakim, apalagi jika di kasi Pistol, akan habis para PKL di Sekitar kita tertembak Mati🙂

  2. purwo said,

    INDONESIA semakin GILA…..!!!!
    mas CIPTO dan mas SUHARYANTO adalah salah satu orang BIADAB yang telah diberi makan oleh rakyat, dan diberi tempat hidup oleh negara, ternyata menggunakan jabatnnya nya hanya untuk memuaskan dirinya sendiri. SAYA SANGAT TIDAK SETUJU DENGAN PENGGUNAAN PISTOL OLEH SATPOLL PP.
    namun jika boleh menela’ah lagi, pada dasarnya satpol PP itu berasal dari kaum proleter juga. dimana mereka sebelumnya juga menjadi korban dari sang penguasa. dan mereka sekarng diciptakan oleh penguasa untuk menindas rakyat kecil atau sebagai alat tempur. Banyak dari para satpol PP yang istrinya kerja dipasar, anknya tidak sekolah..dsb..
    jadi PROLETER vs PROLETER. itulah dasar pemikiran saya.
    jadi yang seharusnya bertanggung jawab pada semua tindakan miring satpol PP itu adalah pemerintah. kaum borjuis yang menciptakan mereka sebagai alat pembunuh (TERMINATOR)

  3. Fitri said,

    Pakai senjata tongkat saja, mereka udah main pukul. Apalagi pakai pistol.😈

  4. lovepassword said,

    Mendingan Satpol PP disuruh belajar jadi sales dulu kek setahun dua tahun. Biar belajar caranya ngomong persuasip …

  5. ahmed shahi kusuma said,

    @lovepassword
    dari gagasan sampyan ttg satpol pp jadi Lsales ada 2 hal yg menarik:
    pertama ttg jadi sales biar bisa suasip, setuju biar gak arogan
    kedua jadi sales artien kan jadi orang yg pendapatannya gak pasti, tiap tanggal brapa trima gaji, empati ini yg kurang di lingkungan birokrat kita

  6. sikapsamin said,

    Salam kenal kimas Ahmed,
    Saya bukan dari UI, UNITOMO maupun UGM, cuma jebolan UGD…jadi pakai sarungpun ribet.
    Gemar baca buku2nya simbah. Imanuel Kant, Karl Jaspers, Sigmund Freud, Max Plank, Einstein sampai Satelit-PAMELA, malah bikin gundhulku kopyor. Untung ada anekdot2 Sufi, Semar, Gareng, Petruk & Bagong.
    Eh..maaf kenalan kok kedawan, komennya lali…

    Soal Satpol-PP(plus berbagai front/ormas) yg semakin beringas-buas, saya tanya simbah, beliau juga pusing.
    Seingat beliau, dulu jaman kumpeni malah tidak ada. Tapi memang menjelang G30S-1965, memang muncul isu dibentuknya Angkatan ke-5, diluar TNI/POLRI. Konon ide tsb muncul dari pihak Komunis, cuma simbah sendiri nggak tahu kubu Komunis Cina atau Rusia?! Dua kubu ini bersaing melebarkan hegemoninya…
    Begitu cerita simbah…

    Tapi pengamatan saya pribadi sejak isu “PERUBAHAN” yg dicanangkan pemerintah, kok kelompok2 ini makin beringas bin buas ya?!?
    Saya sampai mendapat kesimpulan “PERUBAHAN” ber-ubah jadi “pe-RUBAH-an”…

    Satpol-PP/front/ormas (baca:Angkatan-5), menjadi Kelompok-RUBAH yg terjangkit-Rabies,
    menyerang/menggigit Kelompok-RUBAH waras ( baca:Masyarakat Umum)…

    Mbuhlah pusing aku kimaa Ahmed.., mendingan baca anekdotnya Nasreddin saja…

    Salam…pe-RUBAH-an

  7. Lambang said,

    Ada maksud terselubung dalam pembentukan satpol PP itu. Yang jelas, mereka tidak memasang slogan “To serve and to protect” di pintu mobilnya. Jadi menurut mereka sah-sah saja kalau nggebuki rakyat yang dituduh membangkang.

    Kalau Amerika menggunakan cara yang lebih elegan dalam mengurangi pembangkangan. Mereka membuat bencana dan wabah artifisial untuk mengurangi populasi. Kalau populasi sedikit tapi makmur, tentunya lebih mudah dikontrol daripada yang banyak tapi melarat kabeh.

    Mungkin ada yang seneng kalau muncul bencana. Selain mengurangi populasi, tentunya banyak dana yang berputar di sana.

  8. ahmed shahi kusuma said,

    @sikap samin
    Wah dari namane, aku dah suka nih. Samin kan sebuah kelompok anarkis lokal tanah air yang luar biasa. Salam kenal juga.
    masalah Nasruddin menurut sampeyan sing paling top kisah yan g mana?
    Kalo aku pilih waktu nasruddin cari arloji di jalanan, padahal arlojinya ketinggalan di gudang..hehehehe!
    @Lambang
    Yah, betul juga, memang humanisme (harusnya?) berasal dari kesadaran untuk mengontrol populasi . Diskusi ttg perlune pembatasan populasi ini saya paham betul waktu kuliah (dari debat Bertrand Russell dan seorang pendeta), padahal sekarang ini batas aktifis Islam atau agama umumnya yg malah jor2an bikin anak banyak.

  9. rommy fs said,

    satpol pp dipersenjatai pistol kebanyakan org spp itu kerja bangun tdr makan setor muka sm pjabat teras ,satuan pp tgs memnghamburkan uang negara yaitu abpn dan abpd saja bnyk korupi slah satu komandan sj punya hotel sda bagaimana negara mau maju kayak bubarkan saja salam arek famm unitomo bangkit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: