Agustus 9, 2010

“Memahami” Inflasi Menjelang Puasa Ramadhan

Posted in Agama Pembebas pada 7:30 am oleh kusumahk

Ramadhan kareem akan tiba. Momen penting ini merupakan ritual tahunan muslim dalam kontemplasi dan peningkatan kualitas rohaninya.Teman pena saya Romo Labib Kopti, seorang pendeta katolik Arab mengirimi saya ucapan Mubarak Ramadhan karim. Hal ini tentu mengingatkan beliau pada kekhasan ramadhan di negeri2 muslim. Begitulah akhirnya, ramadhan tiba, dan kaum mu’min wa bil khusus Indonesia dalam konteks ini juga segera menyambut bulan ini dengan melaksanakan puasa juga. Ok, itu dari satu sisi adalah wujud kesadaran religius per individu Indonesia, tetapi sayang dari segi peningkatan kesadaran level spiritualitas masih terabaikan.

Robert Heffner, salah seorang Indonesianis terkemuka (yang menulis geger tengger) menyatakan bahwa memang terjadi kesadaran beragama dalam masyrakat muslim Indonesia (menurut saya juga orang Kristen) sejak tahun 1990an dan suasana itu sangat berbeda dengan apa yang ia amati di tahun 1970an, bahwa banyak orang menyuguhkan makanan di kantor- kantor pemerintah.  Nah, yang menarik ddari sifat bangsa Indonesia ini kemudian adalah suasana khusuk yang mampu menahan lapar dan dahaga itu dioper jamnya pada waktu berbuka puasa tiba. Saat puasa yang seharusnya   seseorang itu mampu menahan dirinya hanya menjadi perubahan jam makan saja. Jadi hanya level agama dan bukan spiritual yang kita hayati.

Jalan berpikir ini kemudian yang menyebabkan manusia muslim kita menimbun harta, dan berbangga – bangga dengan perolehan harta kita untuk kita ludeskan pada saat berbuka katakanlah jam 18.00, dan kita beranggapan itu berpuasa. Akibatnya jelas inflasi.  Puasa kita diukur dari keefektifan menunda jam makan. Kita belum menghayati bahwa  inti peribadatan atau spiritulaitas   adalah kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati, atau setidaknya daging bukanlah tujuan dari hidup, dan untuk itu adalah misteri. Saya ( Ahmed Shahi Kusuma) tidak memiliki huruf T (Truth) besar untuk mengetahui itu, tapi setidaknya dari kisah Ibrahim/ Abraham jelas bahwa ia tidak mengetahui apakah Allah akan mengganti anaknya yang disembelih nantinya, sedangkan puasa kita sudah pasti kita tahu jam 18.00 ada buka . Akhirnya puasa kita tak sebanding dengan nilai spiritual yang seharusnya dipahami yaitu seperti keteladanan kisah Ibrahim tadi, bukan menjadi penyebab inflasi!

4 Komentar »

  1. sikapsamin said,

    Selamat menjalankan ibadah puasa dibulan yg penuh berkah ini…
    Semoga kimas Ahmed sekeluarga dalam menjalankan amal ibadah selalu mendapat limpahan HidayahNYA…Amiiin

    Tentang kualitas/tingkat spiritual seseorang, menurut ulasan bahasanya Saridin(oplosan Samin dan Nasruddin), katanya sebenarnya simpel, begini: Makin meningkat kualitas SPIRITUAL seseorang, dalam perilakunya dia akan semakin SEPI ing RITUAL…
    Akan “MEMAHAMI” essensi, akan “MEMAHAMI” inflasi yg dimaksud kimas Ahmed tadi…

    Akhirul kalam, menyampaikan permohonan Maaf lahir dan batin…

  2. ahmed shahi kusuma said,

    Wah sudah 2 kali mampir ke sini, matur suwun. kalau sampe tiga kali bisa batal wudhunya atau malah sebelum ayam berkokok, atau dapet hadiah rujak cingur Suroboyo…
    Sampeyan punya wordpress yg bisa dikunjungi gak?

  3. sikapsamin said,

    Wwhhuuahh…rujak-cingur Suroboyo?
    Aku ngerti’né sing ndik jl.Mayjen.Sungkono sebrang’é Hotel Satelit. Ndek kono gelek mampir. Tapi ono kabar rujak-cingur rega’né Rp.150.000,-/piring. Temen tah? Iku nggaé cingur’é sopo?!? Pengin tapi gak nutut…hihihi

    Soal wordpress?!? Maklum mas, Sariddin seneng’é biyayakan ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, sampè ‘rumongso gak rumongso’ duwé wordpress. Isin aku…tapi yo monggo mampir nang gubugku mbluthuk suwung :
    http://sikapsamin.wordpress.com/

    Suwun mas…selamat menjalankan ibadah puasa, sepura’né lahir batin

  4. alexznoerdars said,

    Saudara Ahmad shahi kusuma anda benar kalau puasa tidaklah seistimewa yang ada dipikiran umat muslim karena puasa hanyalah penundaan jam makam atau perpindahan jam makan belaka atau bisa juga diartikan sebagai berpura-pura lapar di siang hari untuk kemudian makan sekenyang-kenyangnya di senja hari dan di saat fajar menyinsing , apa yang didapat dari hal ini kecuali kemunafikan , puasa ramadhan sama sekali tidak mengajarkan gaya hidup sederhana apalagi sampai bisa merasakan penderitaan orang miskin ! , seperti anda katakan orang berpuasa tahu persis kapan dia akan makan dan dengan lauk apa dia makan (dibulan puasa ibu , istri akan menyiapkan lauk yang istimewa dengan cara apapun) tapi orang miskin tidak tahu kapan dia makan dan dengan lauk apa dia makan ? dan kemiskinan bukan hanya masalah perut tapi juga kesehatan , pendidikan dan harapan.

    Saudara Ahmad shahi kusuma dalam sebuah buku karya Astrid Lingden ” Madicken en junibacken pims ” , saat Madita bertanya kepada ayahnya (seorang wartawan sosialis) ayah mengapa dimejamu banyak foto-foto menyedihkan dan cerita-cerita sedih ? mereka adalah orang miskin sayang ” jawab sang ayah , ” apa itu kemiskinan ayah ? dan seperti apa rasanya ? ” kemiskinan itu ketika kamu ingin sekolah tidak ada beaya untuk sekolah , kamu ingin beli baju dan sepatu ayah tidak punya uang untuk membelikannya , ketika kamu sakit ayah tidak punya uang untuk membeli obat … itulah kemiskinan dan rasanya seperti kamu terikat diterik matahari dan dibawahmu adalah sarang semut kamu tidak bisa berbuat apapun kecuali menerima ” itulah penjelasan ayah Madita tentang kemiskinan dan penjelasan ini jauh lebih bisa dimengerti daripada penjelasan tentang kaitan antara kemiskinan dan puasa yang menurut saya terlalu dipaksakan , tapi diluar itu semua bulan ramadhan tetaplah pantas diapresiasi karena dibulan ini orang miskin dapat perhatian dan semua orang menjadi baik kepada kaum miskin , walaupun itu hanya satu bulan tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali !.

    Mengenai keimanan cara Ibrahim / Abraham , saudara Ahmad SK adalah gila kalau kita beriman dengan cara ibrahim / abraham dimana mimpi yang merupakan kembang tidur dijadikan acuan mengalahkan rasionalitas , di Bangladesh seseorang membantai anak istrinya dengan alasan tindakannya adalah ujian dari Allah terhadap keimanannya dan pengadilan memvonis orang tersebut dengan gila , jadi kesimpulannya cara beriman model Ibrahim / Abraham adalah cara gila !.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: